Home Humaniora Drs.H.I.ABD. RACHMAN TH,MPA: Kerajaan Mamuju Memiliki Keris Manurung Bernama Badong

Drs.H.I.ABD. RACHMAN TH,MPA: Kerajaan Mamuju Memiliki Keris Manurung Bernama Badong

234
0
SHARE
Drs.H.I.ABD. RACHMAN TH,MPA: Kerajaan Mamuju Memiliki Keris Manurung Bernama Badong

Lensapena.Info,Mamuju,Sulbar--Kerajaan Mamuju adalah sebuah negeri / daerah yang wilayahnya cukup luas. Batas –batas kerajaan Mamuju sebagai berikut :

Sebelah Utara : Kabupaten Donggala Sul-Teng (Suromanan)

Sebelah Timur     : Basokang dan Kabupaten Luwu

Sebelah Selatan   : Takandeang Kerajaan Tapalang

Sebelah Barat      : Pulau Salissingan/Selat Makassar.

Kerajaan Mamuju dihuni oleh suku / etnis Mandar Mamuju dan tergolong masuk wilayah pitu Ba’bana Binanga (Tujuh Buah Muara Sungai). Mamuju adalah berasal dari mamunyu karena pengaruh morfologis dan aktualisasi maka Mamunyu berubah menjadi mamuju, Mamunyu artinya lembut sopan santun dan halus.  sejarah kerajaan mamuju

Ketujuh kerajaan pitu babana binanga yaitu :

Kerajaan Balanipa,Kerajaan Banggae,Kerajaan Pamboang,Kerajaan Sendana,Kerajaan Tapalang,Kerajaan Mamuju dan Kerajaan Binuang

 Jika kita berbicara tentang adat istiadat maka tidak lepas dari budaya, Budaya Mamuju adalah budaya tertua di Sulawesi Selatan, hal ini dibuktikan dengan penemuan benda-benda purbakala seperti patung sikendeng yang dibawa oleh orang-orang dari asia tenggara di Mamuju, ditemukan di Mamuju (sikendeng) pada tahun 1973.

Bukti sejarah kebudayaan tua lainnya ialah ada satu lembar bendera tua yang bertuliskan kalimat syahadat yang umurnya juga sudah ratusan tahun dibawa datang oleh penyebar agama islam yang berasal dari luar Sulawesi yaitu pulau Sumatra. Penyebar agama islam yang pertama di Mamuju ialah seorang wali yang bernama PUATTA SALAMA (1500).

Begitu pula ada sebilah keris pusaka bernama badong berasal dari hasil perkawinan anak raja Mamuju dengan anak raja badung bali melahirkan seorang manusia yang bernama LASALAGA kembar dengan sebuah keris Lasalaga dikuburkan di kampung Timbu Mamuju (Topeloda Batu).

Keris pusaka ini oleh masyarakat juga diberi nama manurung karena selain kelahirannya tidak seperti keris biasa juga punya banyak kesaktian dan sampai sekarang masih dipercaya oleh sebagahagian masyarakat termasuk masyarakat bali yang ada di Mamuju (eks transmigrasi) begitu pula halnya masyakarat bali yang ada di pulau Bali (Bali dan Denpasar).  

Sejarah kerajaan mamuju Pada waktu pemandian / pencucian keris manurung pada tahun 2002 acara prosesi massossor ini selain dihadiri oleh seluruh perangkat Pemda Mamuju Lembaga Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, tokoh Adat Mamuju juga dihadiri oleh Raja Badung, Bupati dan wali kota Denpasar Provinsi Bali. Disaat proses pencucian  keris pusaka air yang digunakan ialah air yang dicampur dengan berbagai macam bunga-bungaan sehingga airnya menjadi harum dan air ini diperebutkan oleh seluruh masyarakat yang mempunyai kepercayaan bahwa air bekas cucian Keris Manurung dapat memberikan berkah yakni memperbanyak rezeki dan cepat mendapat jodoh bagi mereka yang belum mempunyai pasangan.

Keris Manurung ini oleh masyarakat Mamuju disebut juga Maradika Tammakanakana artinya Raja tidak bisa bicara. Keris pusaka ini menjadi bukti sejarah tentang adanya hubungan emosional antara masyarakat Mamuju dengan masyarakat badung/Bali. Keris pusaka ini tersimpan di Mamuju dirumah kediaman H. Andi Maksum Dai Raja di Kerajaan Mamuju. Umur keris pusaka ini sudah ratusan tahun karena barang ini seumur dengan lahirnya Lasalaga.

Peninggalan sejarah lainnya yaitu pelabuhan Kurri-Kurri di Simboro yang sejak ratusan tahun lalu (1540) sudah banyak dikunjungi oleh pedagang asing Portugis, Belanda dan lain-lain.

Sejak saat itu Kerajaan Mamuju (pelabuhan Kurri-kurri) sudah dikenal disebahagian wilayah nusantara, seperti Kerajaan Kutai di Kalimantan, Gowa, Bone dan Luwu serta Kaili di Sulawesi Tengah. Namun Mamuju termasuk etnis Mandar, tetapi mempunyai bahasa khusus ialah bahasa Mamuju tetapi orang Mamuju pada umumnya dapat dan mengerti akan bahasa mandar. 

Dalam wilayah daerah Kerajaan Mamuju ada beberapa bahasa lokal; yakni bahasa Botteng, digunakan oleh masyarakat yang berada disepanjang  pegunungan batas Mamuju-Tapalang, bahasa Sumare berada disepanjang tanjung rangas, Bahasa Padang dipergunakan oleh masyarakat yang berada dipegunungan kelurahan Binanga dan Kelurahan Mamunyu, bahasa sinyonyoi dipergunakan oleh masyarakat yang berada di Kelurahan Sinyonyoi dan Desa Kalukku, Bahasa Sondoang dipergunakan oleh masyarakat di Desa Sondoang-Kalukku, Bahasa Topoyo & Tobadak dipergunakan oleh masyarakat yang mendiami kecamatan Tobadak, Bahasa Sarudu dan Baras dipergunakan oleh masyarakat yang berada di Kecamatan Sarudu dan Baras, Bahasa Kalumpang dipergunakan oleh masyarakat di pegunungan kecamatan Kalumpang dan Bonehau. Bahasa kaili dipergunakan oleh masyarakat diperbatasan daerah Mamuju dengan Donggala Sulawesi Tengah. sejarah kerajaan mamuju.

Bersambung